Kamis, 04 Februari 2010

menggelar Perayaan Robo-robo

Kerajaan Amantubillah di Mempawah Kabupaten Pontianak, Kalimantan Barat, akan menggelar Perayaan Robo-robo memperingati kedatangan pendiri kota Mempawah, Opu Daeng Manambon, 10 Pebruari 2010.
Wakil Panitia Napak Tilas Berdirinya Keraton Amantubillah 2010, Syaiful di Pontianak, Selasa, mengatakan Perayaan Robo-robo yang diperingati setiap Rabu akhir bulan Safar sebagai bentuk mengenang kedatangan Opu Daeng Manambon.
Ia menjelaskan, sebagai layaknya napak tilas kedatangan Opu Daeng Manambon ke Mempawah, pihaknya juga menyelenggarakan ritual serupa mulai dari awal kedatangan pendiri itu di Kuala Mempawah yang disambut dengan iring-iringan perahu yang berisi ratusan prajurit dan perahu lancang kuning yang digunakan raja masa itu.
Adapun agenda Perayaan Robo-robo yang akan digelar antara lain, ritual penyambutan di Kuala Mempawah Pangeran Ratu Mardan Adijaya Kesuma Ibrahim, oleh para prajurit kerajaan. Kemudian dilanjutkan ritual buang-buang sesaji ke laut sebagai tolak bala, makan saprahan yang juga sebelumnya dilakukan oleh Opu Daeng Manambon bersama prajurit dan masyarakat Mempawah.
Selain itu, acara tambahan pihak panitia juga menggelar kirab benda-benda pusaka Kerajaan Amantubillah, setelah itu benda yang telah diarak keliling Kota Mempawah menjalani ritual pembersihan di Keraton Amantubillah.
Panitia telah mengundang semua keraton yang ada di Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam dan Singapura untuk menghadiri perayaan tersebut.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalbar, Kamaruzzaman, menyatakan Perayaan Robo-robo telah diagendakan dalam "Visit Kalbar 2010" dan masuk agenda wisata Indonesia menuju wisata internasional.
Ia menjelaskan, Pemerintah Provinsi Kalbar telah melakukan berbagai upaya mempromosikan perayaan itu agar bisa menggaet wisatawan nasional maupun internasional. "Malam pergantian tahun 2009 ke tahun 2010 kami telah meluncurkan ’Visit Kalbar 2010’," kata Kamaruzzaman.
Kamaruzzaman menambahkan, ada dua agenda penting di Kalbar pada Pebruari, yaitu Perayaan Robo-robo tanggal 10 Pebruari dan Perayaan Cap Go Meh 28 Pebruari yaitu di Kota Singkawang dan Kota Pontianak. "Kami menargetkan kunjungan wisatawan nasional dan internasional sebanyak-banyaknya," kata Kamaruzzaman.
Sebelumnya, Pangeran Ratu Mardan Adijaya Kesuma Ibrahim mengatakan, Perayaan Robo-robo sebagai napak tilas kedatangan Opu Daeng Manambon. "Ketika itu para pengikut Opu Daeng Manambon yang terdiri dari berbagai etnis dan agama dengan suka cita menyambut kedatangan beliau," ujarnya.
Ia mengatakan robo-robo sarat dengan pesan persatuan dari semua etnis dan agama yang ada di Kalbar yang diwariskan oleh Opu Daeng Manambon ketika mendirikan Kota Mempawah. "Mereka berkumpul pada hari Rabu akhir bulan Safar, bersama-sama membangun Mempawah," ujarnya.
Keharmonisan itu bisa dilihat di komplek pemakaman Opu Daeng Manambon yang disampingnya juga terdapat makam Panglima Hitam orang Dayak, Patih Humantir dan Damarwulan orang Jawa, Lo Tai Pak orang Tionghoa serta dari beberapa etnis lainnya.

Minggu, 10 Januari 2010

kota pemekaran kuburaya


 Administrasi Pemerintahan

 Kabupaten Kubu Raya yang terdiri dari 9 Kecamatan belum memiliki wilayah kelurahan karena belum ada wilayah yang memenuhi syarat baik dari jumlah penduduk, luas wilayah, bagian wilayah kerja maupun dari segi sarana dan prasarana pemerintahannya.
Sedangkan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kubu Raya baru terbentuk pada bulan Juni 2008 atau 8 Bulan setelah pelantikan Penjabat Bupati Kubu Raya. Anggota DPRD berjumlah 40 orang dan ketuanya baru terpilih pada Bulan Juli 2008.
Adapun jumlah pegawai sejak kabupaten Kubu Raya terbentuk adalah 5.308 pegawai dengan komposisi sebagaimana terdapat dalam tabel di bawah ini :


No

Jumlah Pegawai
Gol. I
GOL. II
GOL. III
GOL. IV
Total
1
2
3
4
5
6
7
1
Dari Kabupaten Induk
61
1.289
2.791
1.070
5.211
2
Dari Propinsi
-
1
23
8
32
3
Dari Kabupaten / Kota Lain
-
6
32
21
59
4
Dari Pusat
-
-
4
2
6

Total
61
1.296
2.850
1.101
5.308
Kabupaten Kubu Raya yang terdiri dari 9 Kecamatan belum memiliki wilayah kelurahan karena belum ada wilayah yang memenuhi syarat baik dari jumlah penduduk, luas wilayah, bagian wilayah kerja maupun dari segi sarana dan prasarana pemerintahannya.
Sedangkan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kubu Raya baru terbentuk pada bulan Juni 2008 atau 8 Bulan setelah pelantikan Penjabat Bupati Kubu Raya. Anggota DPRD berjumlah 40 orang dan ketuanya baru terpilih pada Bulan Juli 2008.
Adapun jumlah pegawai sejak kabupaten Kubu Raya terbentuk adalah 5.308 pegawai dengan komposisi sebagaimana terdapat dalam tabel di bawah ini :


No

Jumlah Pegawai
Gol. I
GOL. II
GOL. III
GOL. IV
Total
1
2
3
4
5
6
7
1
Dari Kabupaten Induk
61
1.289
2.791
1.070
5.211
2
Dari Propinsi
-
1
23
8
32
3
Dari Kabupaten / Kota Lain
-
6
32
21
59
4
Dari Pusat
-
-
4
2
6

Total
61
1.296
2.850
1.101
5.308

Kabupaten Kubu Raya yang terdiri dari 9 Kecamatan belum memiliki wilayah kelurahan karena belum ada wilayah yang memenuhi syarat baik dari jumlah penduduk, luas wilayah, bagian wilayah kerja maupun dari segi sarana dan prasarana pemerintahannya.

Sedangkan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kubu Raya baru terbentuk pada bulan Juni 2008 atau 8 Bulan setelah pelantikan Penjabat Bupati Kubu Raya. Anggota DPRD berjumlah 40 orang dan ketuanya baru terpilih pada Bulan Juli 2008.
Adapun jumlah pegawai sejak kabupaten Kubu Raya terbentuk adalah 5.308 pegawai dengan komposisi sebagaimana terdapat dalam tabel di bawah ini :


No

Jumlah Pegawai
Gol. I
GOL. II
GOL. III
GOL. IV
Total
1
2
3
4
5
6
7
1
Dari Kabupaten Induk
61
1.289
2.791
1.070
5.211
2
Dari Propinsi
-
1
23
8
32
3
Dari Kabupaten / Kota Lain
-
6
32
21
59
4
Dari Pusat
-
-
4
2
6

Total
61
1.296
2.850
1.101
5.308

Kondisi Geografis

Kabupaten Kubu Raya merupakan Kabupaten yang terletak di bagian Barat Propinsi Kalimantan Barat. Kabupaten Kubu Raya adalah kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten Pontianak yang terbentuk melalui Undang-undang No.35 tahun 2007.  Dengan luas wilayah 6.985,20 Km2 (luasnya meliputi kurang lebih 65 % dari kabupaten induk).

Secara geografis kedudukan Kabupaten Kubu Raya berada di antara garis 108°35’  –  109°58’ BT 0°44’ LU  –  1°01’ LS. Karakter fisik wilayah terdiri dari daerah daratan dan pulau-pulau pesisir yang memiliki lautan.
Batas- batas fisik wlayah Kabupaten Kubu Raya, terdiri dari :
Utara    :    Kabupaten Pontianak.
Selatan    :    Kabupaten Ketapang.
Timur    :    Kabupaten Landak dan Kabupaten Sanggau.
Barat    :    Laut Natuna.

kabupaten landak

 kabupaten Landak adalah salah satu kabupaten yang boleh dikatakan maju dari segi pembangunan, pendidikan, dan perekonomian serta keamanan. Landak berasal dari Bahasa Belanda yang terbagi menjadi dua suku kata "Lan" dan "Dak", LAN artinya Pulau, dan DAK artinya Dayak, oleh sebab itu mayoritas penduduk aslinya adalah Suku Dayak. Mengapa dikatakan demikan bukti kongkritnya adalah masih adanya peningalan rumah Panjang/Betang di Kab. Landak sampai saat ini, tepatnya terletak di Desa Saham, Kecamatan Sengah Temila.

Berdasarkan catatan sejarah bahwa kata "Dayak" ditulis oleh para penulis Belanda jaman itu dalam bentuk "Dyak" atau "Dyaker". Sementara kata "Land" berarti "tanah". "Land-Dyak" sebenarnya bermakna "Tanah Dayak" yang kemudian diubah menjadi "Landak".
Data- Data:
Motto     : Masyarakat Bersatu Landak Maju
Ibu kota : Ngabang
Luas       : 9.909,10 km²
Penduduk        
 · Jumlah      : 282.026 jiwa
 · Kepadatan : 13 jiwa/km²
Pembagian administratif           
 · Kecamatan :    10 buah
 · Desa/kelurahan : 154
Dasar hukum: UU No. 55 Tahun 1999
Tanggal: 4 Oktober 1999
Kode area telepon: 0563
Sampai dengan tahun 2005, Kabupaten Landak terdiri atas 10 Kecamatan dan 156 Desa serta 553 Dusun. Kabupaten Landak terletak pada koordinat 1°00” LU - 0°52’ LS dan 109°10’42” - 110°10’ BT. Secara administratif batas  Kabupaten Landak adalah :
-  Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Bengkayang;
-  Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Sanggau;
-  Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Pontianak;
-  Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten  Pontianak.

Apabila dicermati, letak Kabupaten Landak sangat strategis. Dikatakan sangat strategis karena kabupaten ini  terletak di tengah-tengah Propinsi Kalimantan Barat, juga merupakan daerah lintasan jalur Pontianak –  Entikong – Kuching – Brunei Darussalam maupun jalur Pontianak – Jagoibabang – Kuching. Letak ini memiliki dampak sosial dan ekonomi yang besar sebagai konsekuensi logis dari berbagai kegiatan yang dilakukan di sepanjang jalur tersebut. Ini merupakan salah satu potensi dan modal bagi pengembangan Kabupaten Landak di masa mendatang.
Luas wilayah Kabupaten Landak secara keseluruhan 9.909,10 Km² atau setara dengan 6,75% luas wilayah Provinsi Kalimantan Barat. Perincian luas wilayah Kabupaten Landak per Kecamatan, menurut fungsi wilayah, wilayah fisiografis dan iklim diuraikan berikut ini.

A. Luas Wilayah Kabupaten Landak Per Kecamatan
No
Kecamatan
Luas (Km²)
%
01
02
03
04
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
Sebangki
Ngabang
Sengah Temila
Mandor
Menjalin
Mempawah Hulu
Menyuke
Meranti
Kuala Behe
Air Besar
885,60
1.996,90
1.963,00
455,10
322,90
716,10
867,96
372,34
968,00
1.361,20
8,94
20,15
19,81
4,59
3,26
7,23
8,76
3,76
9,77
13,74

Jumlah
9.909,10
100,00




Image

Sejarah Kota Sambas

Sejarah tentang asal usul kerajaan Sambas tidak bisa terlepas dari Kerajaan di Brunei Darussalam. Antara kedua kerajaan ini mempunyai kaitan persaudaraan yang sangat erat.Pada jaman dahulu, di Negeri Brunei Darussalam, bertahtalah seorang Raja yang bergelar Sri Paduka Sultan Muhammad. Setelah beliau wafat, tahta kerajaan diserahkan kepada anak cucunya secara turun temurun. Sampailah pada keturunan yang kesembilan yaitu Sultan AbdulDjalil Akbar. Beliau mempunyai putra yang bernama sultan Raja Tengah. Raja tengah inilah yang telah datang ke Kerajaan Tanjungpura (Sukadana). Karena prilaku dan tata kramanya sesuai dengan keadaan sekitarnya, beliau disegani bahkan Raja Tanjungpura rela mengawinkan dengan anaknya bernama ratu Surya. Dari perkawinan ini terlahirlah Raden Sulaiman. Saat itu di Sambas memerintah seorang ratu keturunan Majapahit (Hinduisme) bernama Ratu Sepudak dengan pusat pemerintahannya di Kota Lama kecamatan Telok keramat skt 36 Km dari Kota Sambas. Baginda Ratu Sepudak dikaruniai dua orang putri. Yang sulung dikawinkan dengan kemenakan Ratu Sepudak bernama raden Prabu Kencana dan ditetapkan menjadi penggantinya. Ketika Ratu Sepudak memerintah, tibalah raja Tengah beserta rombongannya di Sambas. Kemudian banyak rakyat menjadi pengikutnya dan memeluk agama Islam. Tak berapa lama, Ratu Sepudak wafat. Menantunya Raden Prabu Kencana naik tahtadan memerintah dengan gelar Ratu Anom Kesuma Yuda. Pada peristiwa bersamaan putri kedua Ratu Sepudak yang bernama Mas Ayu Bungsu kawin dengan Raden Sulaiman (Putera sulung Raja Tengah. Perkawinan ini dikaruniai seorang putera bernama Raden Boma. Dalam pemerintahan Ratu Anom Kesuma Yuda, diangkatlah pembantu-pembantu Administrasi kerajaan. Adik kandungnya bernama Pangeran Mangkurat ditunjuk sebagai Wazir Utama. Bertugas khusus mengurus perbendaharaan raja, terkadang juga mewakili raja. Raden Sulaiman ditunjuk menjadi Wazir kedua yang khusus mengurus dalam dan luar negeri dan dibantu menteri-menteri dan petinggi lainnya. Rakyat lebih menghargai Raden Sulaiman daripada Pangeran Mangkurat, hingga menimbulkan rasa iri dihati Pangeran Mangkurat. suatu ketika tangan kanan Raden Sulaiman bernama Kyai Satia Bakti dibunuh pengikut Pangeran Mangkurat. setelah dilaporkan kepada raja, ternyata tak ada tindakan positif, suasana makin keruh. Raden Sulaiaman mengambil kebijaksanaan meninggalkan pusat kerajaan, menuju daerah baru dan mendirikan sebuah kota dengan nama Kota bangun. Jumlah pengikutnyapun makin banyak. Hal ini telah mengajak Petinggi Nagur, Bantilan dan Segerunding mengusulkan untuk berunding dengan Ratu Anom Kesuma Yuda. Hasil mufakat keduanya meninggalkan kota lama. Raden Sulaiman menuju kota Bandir dan Ratu Anom Kesuma Yuda berangkat menuju sungai Selakau. Kemudian agak ke hulu dan mendirikan kota dengan ibukota pemerintahannya diberi nama Kota Balai Pinang.

Meninggalnya Ratu Anom Kesuma Yuda dan Pangeran Mangkurat, putera Ratu Anom yang bernama Raden Bekut diangkat menjadi raja dengan gelar Panembahan Kota Balai. Beliau beristrikan Mas Ayu Krontiko, puteri Pangeran Mangkurat. Raden Mas Dungun putera raden Bekut adalah Panembahan terakhir Kota Balai. Kerajaan ini berakhir karena utusan Raden Sulaiman menjemput mereka kembali ke Sambas. Kurang lebih 3 tahun kemudian berdiam di Kota Bandir, atas hasil mufakat, berpindahlah mereka dan mendirikan pusat pemerintahannya di Lubuk Madung, pada persimpangan tiga sungai : sungai Sambas Kecil, Sungai Subah dan Sungai Teberau. Kota ini juga disebut orang " Muara Ulakan". Kemudian keraton kerajaan dibangun dan hingga kini masih berdiri megah.

Di tempat inilah raden sulaiman dinobatkan menjadi Sultan Pertama di kerajaan Sambas dengan gelar Sultan Muhammad Syafeiuddin I. Saudara-saudaranya, Raden Badaruddin digelar pangeran Bendahara Sri Maharaja dan Raden Abdul Wahab di gelar Pangeran Tumenggung Jaya Kesuma. Raden Bima (anak Raden Sulaiman) ke Sukadana dan kawin dengan puteri raja Tanjungpura bernama Puteri Indra Kesuma (adik bungsu Sultan Zainuddin) dan dikaruniai seorang putera diberinama Raden Meliau, nama yang terambil dari nama sungai di Sukadana. Setahun kemudian merka pamit ke hadapan Sultan Zaiuddin untuk pulang ke Sambas, oleh Raden Sulaiman dititahkan berangkat ke Negeri Brunai untuk menemui kaum keluarga. Sekembalinya dari Brunai, Raden Bima dinobatkan menjadi Sultan dengan gelar Sultan Muhammad Tadjuddin. Bersamaan dengan itu, Raden Akhmad putera Raden Abdu Wahab dilantik menjadi Pangeran Bendahara Sri Maharaja. Wafatnya Sultan Muhammad Tadjuddin, pemerintahan dilanjutkan Puteranya Raden Meliau dengan gelar Sultan Umar Akamuddin I.
Berkat bantuan permaisurinya bernama Utin Kemala bergelar Ratu Adil, pemerintahan berjalan lancar dan adil. Inilah sebabnya dalam sejarah Sambas terkenal dengan sebutan Marhum Adil, Utin Kemala adalah puteri dari pangeran Dipa (seorang bangsawan kerajaan Landak) dengan Raden Ratna Dewi (puteri Sultan Muhammad Syafeiuddin I).

Wafatnya Sultan Umar Akamuddin I, Puteranya Raden Bungsu naik tahta dengan gelar Sultan Abubakar Kamaluddin. Kemudian diganti oleh Abubakar Tadjuddin I. Berganti pula dengan Raden Pasu yang lebih terkenal dengan nama Pangeran Anom. Setelah naik tahta beliau bergelar Sultan Muhammad Ali Syafeiuddin I. Sebagai wakilnya diangkatlah Sultan Usman Kamaluddin dan Sultan Umar Akamuddin III. Pangeran Anom dicatat sebagai tokoh yang sukar dicari tandingannya, penumpas perampok lanun. Setelah memerintah kira-kira 13 tahun (1828), Sultan Muhammad Ali Syafeiuddin I wafat. Puteranya Raden Ishak (Pangeran Ratu Nata Kesuma)baru berumur 6 tahun. Karena itu roda pemerintahan diwakilikan kepada Sultan Usman Kamaluddin.

Tanggal 11 Juli 1831, Sultan Usman Kamaluddin wafat, tahta kerajaan dilimpahkan kepada Sultan Umar Akamuddin III. Tanggal 5 Desember 1845 Sultan Umar Akamuddin III wafat, maka diangkatlah Putera Mahkota Raden Ishak dengan gelar Sultan Abu Bakar Tadjuddin II. Tanggal 17 Januari 1848 putera sulung beliau yang bernama Syafeiuddin ditetapkan sebagai putera Mahkota dengan gelar Pangeran Adipati. Tahun 1855 Sultan Abubakar Tadjuddin II diasingkan ke Jawa oleh pemerintah Belanda (Kembali ke Sambas tahun 1879). Maka sebagai wakil ditunjuklah Raden Toko' (Pangeran Ratu Mangkunegara) dengan gelar Sultan Umar Kamaluddin. Pada tahun itu juga atas perintah Belanda, Pangeran Adipati diberangkatkan ke Jawa untuk study.
Tahun 1861 Pangeran Adipati pulang ke Sambas dan diangkat menjadi Sultan Muda. Baru pada tanggal 16 Agustus 1866 beliau diangkat menjadi Sultan dengan gelar sultan Muhammad Syafeiuddin II. Beliau mempunyai dua orang istri. Dari istri pertama (Ratu Anom Kesumaningrat) dikaruniai seorang putera bernama Raden Ahmad dan diangkat sebagai putera Mahkota. Dari istri kedua (Encik Nana) dikaruniai juga seorang putera bernama Muhammad Aryadiningrat. Sebelum manjabat sebagai raja, Putera Mahkota Raden Ahmad wafat mendahului ayahnya. Sebagai penggantinya ditunjuklah anaknya yaitu Muhammad Mulia Ibrahim. Pada saat Raden Ahmad wafat, Sultan Muhammad Syafeiuddin II telah berkuasa selama 56 tahun. Beliau merasa sudah lanjut usia, maka dinobatkan Raden Muhammad Aryadiningrat sebagai wakil raja dengan gelar Sultan Muhammad Ali Syafeiuddin II.

Setelah memerintah kira-kira 4 tahun, beliau wafat. Roda pemerintahan diserahkan kepada Sultan Muhammad Mulia Ibrahim. Dan pada masa pemerintahan raja inilah, bangsa Jepang datang ke Sambas. Sultan Muhammad Mulia Ibrahim adalah salah seorang yang menjadi korban keganasan Jepang. Sejak saat itu berakhir pulalah kekuasaan Kerajaan Sambas. Sedangkan benda peninggalan Kerajaan Sambas antara lain tempat tidur raja, kaca hias, seperangkat alat untuk makan sirih, pakaian kebesaran raja, payung ubur-ubur, tombak canggah, meriam lele, 2 buah tempayan keramik dari negeri Cina dan kaca kristal dari negeri Belanda.
 

  Lambang Pemerintah Kabupaten Sambas : Arti Lambang Pemerintah Kabupaten Sambas :

- Bintang Bersudut Lima Warna Emas adalah Dasar Falsafah Negara Pancasila, dimaksud bahwa Kabupaten Sambas merupakan bagian dari Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila.

- Kelopak Bunga Kapas berjumlah 17 buah, berarti tanggal 17

- Bunga Kapas berjumlah 8 buah, berarti bulan 8 (bulan Agustus)

- Buah Padi berjumlah 45 buah, berarti tahun 1945.

- Tangkai Padi dan Tangkai Kapas diikat menjadi satu oleh pita bersudut empat, mengandung arti CATUR KARSA, yakni :

a. Kesungguhan
b. Kejujuran.
c. Kegotong Royongan
d. Kekeluargaan

Dengan Catur Karsa ini dimaksudkan terlaksananya kesejahteraan yang merata persatuan dan kesatuan rakyat Kabupaten Sambas.

- Mandau dan Tombak, menggambarkan Pusaka dan Kebudayaan Rakyat Kabupaten Sambas.

- Padi dan Kapas melambangkan cukup pangan dan cukup sandang.

- Tulisan "Sambas" menunjukkan Kabupaten Sambas adalah salah satu wilayah kabupaten dalam Propinsi Kalimantan Barat, yang merupakan satu Daerah Otonom.

SITUS RESMI